Fakta Unik

10 Ciri-Ciri Dugong, Ikan Duyung yang Hampir Punah

162
×

10 Ciri-Ciri Dugong, Ikan Duyung yang Hampir Punah

Sebarkan artikel ini
Hewan Dugong
Potret Hewan Dugong di laut. Sumber: budaya.jogjaprov.go.id

Halo, Sobat Suka Fakta! Pernah dengar tentang dugong? Dugong adalah mamalia laut yang sering disebut sebagai duyung atau sapi laut. Hewan besar ini punya penampilan yang unik dan perilaku yang menarik. 

Meski terlihat menggemaskan, sayangnya dugong saat ini berada dalam kondisi rentan punah. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), populasi dugong terus menurun akibat perburuan, terperangkap jaring nelayan, dan berkurangnya padang lamun sebagai sumber makanan utama mereka.

Dugong adalah bagian dari ordo Sirenia, kerabat dekat manatee dan gajah, yang berevolusi dari daratan menuju lautan jutaan tahun lalu. Tubuh besar dan moncongnya yang lebar membuatnya mudah dikenali. Namun, ciri-ciri dugong yang khas tidak hanya sebatas bentuk tubuhnya saja.

Artikel ini akan mengajak Sobat Suka Fakta untuk mengenal lebih dekat ciri-ciri dugong yang unik dan mengapa kita harus melindungi mereka dari kepunahan. Yuk, kita simak 10 ciri-ciri dugong, ikan duyung yang hampir punah ini!

Ciri-Ciri Dugong

1. Setelah Melahirkan, Dugong Tidak Akan Hamil Lagi Hingga 7 Tahun

Sobat Suka Fakta, tahukah kamu kalau dugong memiliki sistem reproduksi yang lambat? Ini menjadi salah satu alasan mengapa populasi mereka rentan punah. Dugong betina baru mencapai kematangan seksual pada usia 9-15 tahun, dan masa kehamilan mereka berlangsung antara 12-14 bulan.

Setiap kali melahirkan, induk dugong hanya menghasilkan satu anak. Setelah melahirkan, induk akan menyusui bayinya selama 1-2 tahun, dan anak dugong akan tetap bersama induknya hingga usia 1,5 tahun. Selama periode ini, induk selalu menjaga anaknya dengan sangat baik dan hampir selalu dalam kontak fisik.

Yang menarik adalah, setelah melahirkan, induk dugong tidak akan hamil lagi untuk rentang waktu antara 2,5 hingga 7 tahun. Ini artinya, jumlah anak yang bisa dihasilkan oleh seekor dugong betina sangat terbatas, dan pertumbuhan populasi mereka menjadi sangat lambat.

Masa hidup dugong di alam liar bisa mencapai 40-70 tahun, tetapi mereka sangat rentan terhadap perburuan dan kerusakan habitat. Dengan sistem reproduksi yang lambat, populasi mereka sulit pulih jika terus-menerus menghadapi ancaman dari manusia dan lingkungan.

Gimana Sobat Suka Fakta, sudah cukup kenal dengan sistem reproduksi dugong yang lambat ini? Selanjutnya, kita akan lihat bagaimana dugong ternyata berkerabat dekat dengan gajah. Yuk, lanjut baca!

2. Mereka Memiliki Sirip dan Ekor yang Unik

Selain bentuk tubuhnya yang besar, dugong juga memiliki sirip dan ekor yang unik. Sirip mereka lebar dan datar, mirip paruh. Sirip ini berfungsi sebagai alat bantu dalam berenang dan juga untuk mencari makanan di dasar laut. Dengan siripnya yang khas, dugong mampu melakukan manuver dengan baik di perairan dangkal tempat mereka tinggal.

Sirip depan yang berbentuk bulat seperti dayung membantu mereka berenang dengan lancar. Pada dugong muda, sirip ini berfungsi sebagai pendorong utama, sedangkan pada dugong dewasa, sirip ini lebih berfungsi sebagai kemudi saat berenang.

Ekor dugong juga nggak kalah menarik, lho! Ekor mereka bercabang seperti ekor lumba-lumba, dengan bentuk homo cercal yang khas. Ekor ini membantu mereka bergerak dengan gesit di perairan dangkal dan memberikan dorongan ekstra saat berenang mencari padang lamun.

Dengan kombinasi sirip dan ekor yang unik, dugong bisa berenang dengan kecepatan hingga 10 km/jam. Kecepatan ini cukup untuk membantu mereka mencari makanan dan menjauh dari pemangsa.

3. Moncong Dugong Digunakan Untuk Merobek Tumbuhan Lamun dari Dasar Laut

Sobat Suka Fakta pasti tahu, salah satu ciri-ciri dugong yang paling khas adalah moncongnya yang lebar dan berbulu. Nah, bulu-bulu yang disebut vibrissae ini bukan sekadar aksesoris, tapi sebenarnya berfungsi sebagai rambut sensorik untuk mendeteksi makanan dan getaran.

Dugong menggunakan moncongnya untuk merobek tumbuhan lamun dari dasar laut. Saat makan, mereka menggoyangkan moncongnya dengan cara yang khas untuk membersihkan pasir dan lumpur dari tanaman lamun. Setelah itu, mereka mencabut rumput laut tersebut dengan moncongnya yang kuat, lalu langsung memasukkannya ke dalam mulut.

Vibrissae pada moncongnya berfungsi untuk mendeteksi getaran dari tanaman lamun dan memudahkan mereka dalam mencari makanan. Moncong ini membantu dugong mengidentifikasi dan merasakan jenis tanaman lamun di dasar laut. Jadi, mereka bisa langsung tahu tanaman mana yang cocok untuk dimakan.

Selain itu, bulu sensorik ini juga membantu dugong mendeteksi kehadiran pemangsa atau ancaman lainnya di sekitarnya. Moncongnya yang besar dan berbulu menjadikan dugong ahli dalam mencari makanan di padang lamun yang berlumpur.

4. Warna Kulit Dugong Cenderung Abu-abu Gelap dan Cokelat

Selain moncongnya, warna dan tekstur kulit dugong juga menjadi ciri khas lainnya. Dugong memiliki warna kulit yang cenderung abu-abu gelap atau cokelat. Namun, saat masih bayi, warna kulitnya krem pucat dan seiring bertambahnya usia, warnanya berubah menjadi lebih gelap.

Tekstur kulit dugong juga menarik untuk diperhatikan. Kulit mereka tebal dan berbulu pendek, memberi perlindungan ekstra terhadap kondisi lingkungan laut. Kulit yang halus ini membantu mereka meluncur dengan mudah di perairan dan berkamuflase di habitat mereka yang berlumpur atau berpasir.

Fungsi lain dari warna kulit dugong adalah untuk menyamar dari pemangsa. Warna abu-abu gelap atau cokelat mereka memungkinkan untuk berbaur dengan lingkungan sekitar, seperti pasir atau lumpur di dasar laut. Ini membantu mereka tetap aman saat sedang mencari makanan di padang lamun.

5. Mereka Adalah Hewan Sosial yang Cenderung Hidup Dalam Kelompok

Sobat Suka Fakta, mari kita lanjutkan dengan perilaku sosial dugong yang menarik! Dugong adalah hewan sosial yang cenderung hidup dalam kelompok, dari kelompok kecil berisi induk dan anak hingga kelompok besar yang bisa mencapai 200 ekor.

Kelompok kecil biasanya terdiri dari induk dan anaknya, serta beberapa individu dewasa lainnya. Sementara kelompok besar biasanya terbentuk ketika mereka sedang mencari padang lamun sebagai sumber makanan utama. Kelompok besar ini dapat membantu mereka mencari makanan lebih efisien dan memberikan perlindungan terhadap pemangsa.

Dugong juga dikenal sebagai hewan seminomaden yang sering bermigrasi jarak jauh untuk mencari padang lamun. Ketika padang lamun di satu daerah habis atau menjadi langka, mereka akan berpindah ke wilayah lain yang lebih subur. Migrasi ini seringkali mencapai jarak ratusan kilometer, menjadikan mereka ahli dalam mencari makanan di lautan.

Dalam kelompok mereka, dugong kerap terlihat bermain, berkomunikasi, dan saling merawat. Mereka berinteraksi dengan cara menyundul satu sama lain atau menyentuh hidung. Induk dugong selalu menjaga anaknya dengan baik dan hampir selalu dalam kontak fisik. Kadang-kadang, anak dugong terlihat menunggangi punggung induknya sambil menyusu.

6. Mereka Gunakan Dua Metode Untuk Komunikasi: Bunyi dan Penglihatan

Ngomongin soal komunikasi, dugong memiliki metode komunikasi yang nggak kalah canggih dibandingkan lumba-lumba, loh! Mereka menggunakan dua metode utama dalam berkomunikasi, bunyi dan penglihatan.

Mirip dengan lumba-lumba, dugong juga mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi antara 3 hingga 18 kHz untuk berkomunikasi. Suara ini bisa berupa dengkuran, siulan, atau geraman yang berlangsung selama sekitar 0,06 detik. 

Setiap suara memiliki frekuensi dan amplitudo tertentu yang berfungsi sebagai isyarat untuk berbagai keperluan, seperti mencari makan atau berkomunikasi dengan anggota kelompok lain.

Selain suara, dugong juga menggunakan penglihatan untuk berkomunikasi saat berada dalam kontak dekat. Komunikasi visual ini biasanya digunakan selama musim kawin. Pejantan melakukan perilaku lekking, yaitu isyarat fisik tertentu untuk memikat betina. Misalnya, mereka bisa melakukan manuver tertentu di depan betina untuk menarik perhatian.

Induk dan anak dugong juga sering berkomunikasi melalui sentuhan. Sentuhan hidung atau sirip menjadi cara induk untuk memperkuat hubungan dengan anaknya. Anak dugong terkadang terlihat menyundul induknya untuk mendapatkan stimulus atau sekadar mencari perhatian.

Menariknya lagi, dugong juga memanfaatkan indra penciumannya untuk mendeteksi dugong lain dan mencari makanan. Bulu sensorik di moncong mereka bisa merasakan getaran dan mendeteksi tanaman lamun di sekitar mereka. Ini membantu dugong mencari makan lebih efisien, terutama karena penglihatan mereka yang kurang baik.

7. Dugong Menghabiskan Waktunya Untuk Makan di Padang Lamun

Sekarang, mari kita bahas kebiasaan makan sang sapi laut ini, Sobat Suka Fakta! Dugong adalah herbivora yang sangat menyukai tumbuhan laut, terutama lamun. Bahkan, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merumput di padang lamun, seolah-olah seperti sapi yang merumput di padang rumput.

Dugong memakan lamun dengan cara menggunakan moncongnya yang lebar dan berbulu untuk mencabut tanaman tersebut dari dasar laut. Setelah itu, mereka menggoyangkan kepala untuk membersihkan pasir atau lumpur dari lamun sebelum memakannya. Dugong dewasa mampu mengonsumsi hingga 25-30 kilogram lamun per hari!

Mereka biasanya mencari makan di perairan dangkal dengan kedalaman 1-5 meter, tetapi bisa menyelam hingga lebih dari 20 meter untuk menemukan padang lamun yang tersembunyi. Ketika tumbuhan lamun langka, dugong juga bisa makan ganggang laut sebagai alternatif.

Jejak makan dugong di dasar laut sangat mudah dikenali, lho! Mereka meninggalkan jejak berbentuk jalur yang menunjukkan bekas tanaman lamun yang sudah tercabut. Untuk memenuhi kebutuhan makanannya, seekor dugong membutuhkan area padang lamun sekitar 0,4 hektare.

Selain itu, dugong memiliki metabolisme yang rendah, yang berarti mereka bisa bertahan hidup dengan mengonsumsi sedikit makanan dibandingkan mamalia besar lainnya. Namun, ketika mereka menemukan padang lamun yang subur, mereka bisa makan sepuasnya hingga merasa kenyang.

8. Dugong Memiliki Bentuk Tubuh yang Besar dan Silindris

Salah satu ciri-ciri dugong yang paling mudah dikenali adalah tubuhnya yang besar, silindris, dan berlemak. Panjang tubuh mereka berkisar antara 2,2 hingga 3,4 meter dengan berat sekitar 230 hingga 930 kilogram. Tubuhnya terlihat seperti torpedo raksasa yang membuatnya mudah mengapung di air.

Meskipun ukurannya besar, tubuh dugong yang berlemak berfungsi sebagai cadangan energi dan membantu mereka bertahan hidup di laut. Lapisan lemak ini juga membuat mereka tetap mengapung saat berada di permukaan air. Jadi, nggak heran kalau mereka sering terlihat santai berendam sambil mencari makanan di padang lamun.

Dugong memiliki kulit yang tebal dan berbulu pendek. Saat lahir, warna kulit mereka cenderung krem pucat, tapi seiring bertambahnya usia, warnanya menjadi lebih gelap, berkisar antara abu-abu hingga cokelat gelap. Kulit mereka yang kasar ini memberi perlindungan tambahan dari pemangsa dan membantu mereka menyamar di perairan berlumpur atau berpasir.

9. Walaupun Hidup di Laut, Mereka Ternyata Sangat Dekat Dengan Gajah

Sobat Suka Fakta, ini fakta menarik lainnya tentang dugong, ternyata mereka punya kerabat dekat yang hidup di daratan, yaitu gajah! Dugong adalah bagian dari ordo Sirenia, yang mencakup dugong dan manatee. Meski terlihat berbeda, penelitian fosil menunjukkan bahwa sekitar 50 juta tahun lalu, nenek moyang dugong dan gajah adalah makhluk yang hidup di daratan.

Dugong dan gajah berevolusi dari makhluk darat yang herbivora menjadi spesies yang berbeda sesuai dengan habitat mereka. Gajah terus beradaptasi di darat, sementara dugong dan manatee beradaptasi dengan kehidupan laut. Dugong akhirnya menjadi spesies yang dikenal sebagai sapi laut karena kebiasaan mereka merumput di padang lamun, mirip dengan sapi yang merumput di padang rumput.

Kerabat dekat dugong lainnya dalam ordo Sirenia adalah manatee, yang terdiri dari tiga spesies, Amazonian manatee, West Indian manatee, dan West African manatee. Meski mirip, dugong memiliki ekor bercabang seperti lumba-lumba, sementara manatee memiliki ekor yang bulat.

Satu-satunya spesies lain dalam ordo Sirenia yang juga dikenal sebagai duyung sejati adalah Steller’s sea cow. Sayangnya, spesies ini telah punah pada tahun 1767 akibat perburuan besar-besaran oleh manusia. Jadi, meskipun kita mengenal dugong sebagai sapi laut, sebenarnya mereka lebih dekat dengan gajah daripada sapi!

10. Populasi Dugong di Alam Liar

Terakhir, mari kita lihat bagaimana kondisi populasi dugong di alam liar. Saat ini, dugong termasuk dalam kategori rentan punah (Vulnerable) menurut IUCN. Mereka tersebar di perairan Indo Pasifik, Afrika Timur, hingga Kepulauan Solomon. Namun, populasi terbesar ditemukan di perairan Australia Barat, khususnya di Shark Bay Marine Park.

Di sana, setidaknya ada sekitar 10.000 ekor dugong, dan di seluruh perairan Australia diperkirakan ada sekitar 80.000 ekor. Meski jumlah ini terdengar banyak, namun secara global populasi dugong terus menurun akibat berbagai ancaman, seperti perburuan, terperangkap jaring nelayan, dan berkurangnya padang lamun sebagai sumber makanan mereka.

Di Indonesia sendiri, dugong termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 7 tahun 1999 tentang Konservasi Flora dan Fauna. Namun, upaya konservasi dugong masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal melindungi habitat lamun dan mengurangi ancaman perburuan.

Karena sifat reproduksi mereka yang lambat, pertumbuhan populasi dugong sulit untuk pulih dengan cepat. Oleh karena itu, langkah konservasi menjadi sangat penting untuk memastikan keberlangsungan hidup mereka di masa depan.

Kenapa Kita Harus Melindungi Dugong?

Sobat Suka Fakta, dari 10 ciri-ciri dugong yang sudah kita bahas di atas, jelas bahwa dugong adalah makhluk yang unik dan menarik. Sebagai salah satu mamalia laut yang rentan punah, dugong membutuhkan perhatian kita untuk melindungi mereka dari ancaman kepunahan.

Beberapa alasan penting kenapa kita harus melindungi dugong:

  1. Keanekaragaman Hayati: Dugong adalah bagian penting dari ekosistem laut dan memiliki peran unik dalam menjaga keseimbangan alam.
  2. Peran Ekologis: Sebagai herbivora yang memakan lamun, dugong membantu menjaga kesehatan padang lamun yang juga menjadi rumah bagi banyak spesies laut lainnya.
  3. Simbol Kekayaan Laut: Dugong adalah bagian dari kekayaan laut yang perlu dilestarikan untuk generasi mendatang. Keberadaan mereka mencerminkan kesehatan ekosistem laut.
  4. Keterkaitan dengan Sejarah: Kerabat dekat gajah ini memiliki sejarah evolusi yang menarik dan layak untuk terus dipelajari dan dilestarikan.

Oleh karena itu, kita harus memastikan upaya konservasi terus dilakukan agar dugong tetap bisa ditemukan di lautan kita.

Gimana Cara Membantu Melindungi Dugong?

Pasti Sobat Suka Fakta bertanya-tanya, “Gimana sih caranya kita bisa ikut membantu melindungi dugong?” Nah, berikut adalah beberapa aksi nyata yang bisa kita lakukan:

1. Edukasi Diri Sendiri dan Orang Lain

Pelajari lebih lanjut tentang dugong dan ciri-ciri dugong yang unik, serta bagikan pengetahuan ini ke teman-teman dan keluarga. Semakin banyak orang yang tahu tentang pentingnya melindungi dugong, semakin banyak pula yang peduli.

2. Dukung Program Konservasi dan Penelitiannya

Donasi ke organisasi yang berfokus pada konservasi dugong, seperti WWF dan Yayasan KEHATI. Dukung program penelitian tentang dugong dan pelestarian habitat mereka.

3. Jauhi Produk Ilegal dari Dugong dan Harta Laut Lainnya

Jangan membeli produk yang terbuat dari bagian tubuh dugong atau satwa laut lainnya yang dilindungi. Hindari juga produk dari sumber yang tidak jelas atau terindikasi berasal dari perdagangan ilegal.

4. Kunjungi Padang Lamun dengan Bertanggung Jawab

Jika mengunjungi padang lamun atau tempat wisata dengan dugong, pastikan kita mematuhi aturan dan menjaga lingkungan sekitar. Jaga kebersihan dan hindari merusak habitat mereka.

5. Ikuti Kampanye di Media Sosial

Dukung kampanye konservasi dugong melalui media sosial dan sebarkan pesan positif untuk melindungi mereka. Gunakan hashtag yang relevan untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang dugong.

Dengan langkah-langkah ini, Sobat Suka Fakta bisa ikut berperan dalam melindungi dugong dan memastikan mereka tetap menjadi bagian dari ekosistem laut kita.

Referensi :

  • https://kumparan.com/ragam-info/4-ciri-ciri-dugong-hewan-laut-yang-dilindungi-22CVaSvoldr
  • https://tekno.tempo.co/read/1606907/3-karakteristik-ikan-duyung-dugong-perilaku-berkomunikasi-dan-mencari-makanan#:~:text=Dugong%20spesies%20hidup%20berkelompok%20yang,jauh%20untuk%20menemukan%20padang%20lamun.
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5588504/mengenal-dugong-mamalia-yang-sering-disebut-duyung-dan-hampir-punah
Sukafakta

SukaFakta adalah website berita yang menyajikan fakta unik, fakta misteri, dan fakta dunia yang menarik dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *