Fakta Unik

Mengenal Suku Baduy: Sejarah, Fakta & Aturan Adatnya

36
×

Mengenal Suku Baduy: Sejarah, Fakta & Aturan Adatnya

Sebarkan artikel ini
Baduy
Mengenal Suku Baduy Sejarah, Fakta & Aturan Adatnya. Sumber: IST

Halo Sobat Suka Fakta! Pernah dengar tentang Suku Baduy? Nah, kali ini kita akan jalan-jalan ke Banten secara virtual untuk mengenal lebih dekat salah satu suku paling unik di Indonesia. 

Suku Baduy, atau yang sering disebut Urang Kanekes, adalah komunitas adat yang masih menjaga tradisi dan adat istiadat leluhur mereka dengan sangat ketat. Mereka tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dan hidup selaras dengan alam.

Suku Baduy ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Apa bedanya? Nah, itu dia salah satu bahasan yang akan kita kulik lebih dalam di artikel kali ini. Intinya, Baduy Dalam lebih tertutup dan super ketat dalam menjalankan adat, sementara Baduy Luar lebih terbuka terhadap dunia luar.

Lalu, ada fakta menarik apa saja dari Suku Baduy? Apa asal usul dan bagaimana pola kehidupan mereka? Yuk, simak terus artikel ini, Sobat Suka Fakta. 

Sejarah dan Asal Usul Suku Baduy

 suku baduy
Ilustrasi warga Suku Baduy. Sumber: UNSPLASH/alvianhasby

Nama “Baduy” sebenarnya diberikan oleh para peneliti Belanda yang melihat kemiripan mereka dengan Suku Badawi dari Arab, yang hidup berpindah-pindah. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari Sungai Cibaduy yang berada di utara Desa Kanekes, tempat tinggal Suku Baduy.

Menurut kepercayaan Suku Baduy, mereka adalah keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke bumi. Ada juga teori yang menyebutkan bahwa Suku Baduy adalah keturunan prajurit Kerajaan Pajajaran yang mengasingkan diri ke Pegunungan Kendeng untuk melindungi diri dari musuh-musuh kerajaan.

Perbedaan pendapat mengenai asal-usul ini membuat sejarah Suku Baduy jadi semakin menarik. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa mereka adalah penduduk asli daerah tersebut yang memiliki daya tolak kuat terhadap pengaruh luar. Namun, terlepas dari berbagai teori yang ada, satu hal yang pasti adalah Suku Baduy telah berhasil mempertahankan identitas dan tradisi mereka selama ratusan tahun.

Lokasi dan Wilayah Tinggal Suku Baduy

Gambar Peta lokasi
Peta Lokasi suka Baduy. Sumber: Dok. Quora

Suku ini mendiami wilayah Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Wilayah mereka sangat indah dengan topografi berbukit dan bergelombang, berada di ketinggian 300 – 600 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini juga termasuk dalam Cagar Budaya Pegunungan Kendeng, yang menjaga keaslian alam dan budaya mereka.

Kanekes terletak sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung. Wilayah ini dibagi menjadi tiga desa utama bagi Baduy Dalam, yaitu Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Desa-desa ini berada di sekitar aliran Sungai Ciujung, yang menjadi sumber kehidupan utama bagi mereka.

Meskipun wilayah mereka cukup terpencil, masyarakat Baduy sangat menjaga hubungan dengan alam sekitar. Mereka memiliki suhu rata-rata sekitar 20°C, yang membuat wilayah ini cukup sejuk dan nyaman untuk dihuni. Kondisi alam yang subur juga mendukung kehidupan pertanian mereka.

Kelompok Masyarakat Suku Baduy

Suku Baduy.
Potret Masyarakat Suku Baduy dalam. Sumber: Dok.bantenprov.go.id

Sobat Suka Fakta, Suku Baduy terkenal dengan kehidupan mereka yang terisolasi atau menolak peradaban luar komunitasnya. Selain itu, mereka terbagi menjadi tiga bagian kelompok masyarakat yang memiliki pola kehidupan berbeda, yaitu Baduy Dalam, Baduy Luar dan Baduy Dangka. Berikut adalah penjelasan masing-masing kelompok Suku Baduy. 

Baduy Dalam 

Kelompok pertama adalah Baduy Dalam. Mereka adalah kelompok yang paling ketat dalam memegang adat istiadat. Tinggal di tiga desa utama, yaitu Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo, masyarakat Baduy Dalam mengenakan pakaian putih alami serta ikat kepala putih. 

Mereka dilarang bertemu dengan orang asing dan sangat menjaga kesucian tradisi mereka. Beberapa aturan yang mereka ikuti termasuk tidak boleh menggunakan kendaraan, tidak boleh memakai alas kaki, dan rumah harus menghadap ke utara atau selatan. Teknologi modern juga sangat ditolak digunakan oleh masyarakat Baduy Dalam. 

Baduy Luar 

Selanjutnya ada Baduy Luar. Mereka adalah kelompok yang lebih terbuka terhadap dunia luar dan tidak menganut aturan seketat Baduy Dalam dalam menjalankan adat. 

Baduy Luar mengenakan pakaian berwarna biru gelap dan ikat kepala yang serupa. Mereka tinggal di berbagai kampung yang mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, dan lainnya. Meskipun mereka masih mengikuti beberapa adat, mereka sudah mulai menggunakan teknologi seperti peralatan elektronik dan pakaian modern. Mereka juga berinteraksi dengan masyarakat luar dengan lebih intens.

Baduy Dangka 

Terakhir, ada kelompok Baduy Dangka. Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes dan hanya tersisa di dua kampung, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka ini berfungsi sebagai buffer zone atau zona penyangga yang melindungi masyarakat Baduy dari pengaruh luar. 

Uniknya, masyarakat Baduy Dangka disebut sebagai Suku Baduy yang paling melakukan islamisasi, kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Meski terkadang mereka masih mengikuti aturan-aturan adat terutama dalam perayaan tradisi Suku Baduy yang dianggap sakral.

Bahasa dan Komunikasi

Suku Baduy.
Potret Masyarakat Suku Baduy. Sumber: Dok Dinas Pariwisata

Suku Baduy menggunakan bahasa Sunda dialek Badui dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini sedikit berbeda dari bahasa Sunda yang digunakan oleh masyarakat Sunda lainnya, namun tetap mudah dimengerti oleh mereka yang fasih berbahasa Sunda.

Yang menarik adalah, masyarakat Baduy Dalam tidak mengenal budaya baca tulis. Semua adat istiadat, kepercayaan, dan cerita nenek moyang mereka disimpan dan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Hal ini membuat mereka memiliki ingatan yang sangat kuat dan detail tentang sejarah serta tradisi mereka.

Meskipun begitu, beberapa dari mereka juga cukup fasih berbahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang luar. Biasanya mereka dari Suku Baduy Luar yang lebih sering berkelana dan tidak terlalu menutup diri dari dunia luar.

Pemerintahan dan Struktur Adat

Upacara Seba Baduy
Potret Pu’un pemimpin adat. Sumber: Wisuda/Mongabay Indonesia

Suku Baduy memiliki sistem pemerintahan yang unik karena mereka menggabungkan sistem nasional dengan sistem adat. Secara nasional, mereka diatur oleh kepala desa yang disebut sebagai Jaro Pamarentah, yang berada di bawah camat. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, mereka lebih tunduk pada sistem adat yang dipimpin oleh Pu’un.

Pu’un adalah pemimpin adat tertinggi di Suku Baduy. Jabatan ini berlangsung turun-temurun, namun tidak selalu diwariskan dari ayah ke anak. Pemilihan Pu’un lebih berdasarkan kemampuan seseorang dalam memegang jabatan tersebut. Pu’un bertanggung jawab atas berbagai aspek kehidupan adat, mulai dari ritual keagamaan hingga penyelesaian masalah dalam komunitas.

Ada juga Jaro yang berperan sebagai wakil dan membantu dalam mengatur kehidupan masyarakat. Jaro biasanya mengurus urusan administratif dan menjadi penghubung antara masyarakat Baduy dan pemerintah luar. Dengan struktur pemerintahan yang terorganisir ini, Suku Baduy berhasil menjaga kearifan lokal mereka sambil tetap berhubungan dengan dunia luar.

Kepercayaan dan Agama Suku Baduy

Arca Domas
Potret Arca Domas. Sumber: Dok. lebakbansel.wordpress.com

Suku Baduy menganut kepercayaan yang dikenal sebagai Sunda Wiwitan. Ajaran ini berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam, yang dikenal sebagai animisme. Meskipun sebagian besar aspek ajaran ini adalah tradisi turun-temurun, kepercayaan Sunda Wiwitan juga sedikit dipengaruhi oleh agama Hindu, Buddha, dan Islam.

Inti dari kepercayaan Sunda Wiwitan adalah menjaga harmoni dengan alam. Mereka percaya bahwa menjaga dan merawat alam sekitar adalah bagian dari tanggung jawab spiritual mereka. Salah satu objek kepercayaan terpenting adalah Arca Domas, yang dianggap sangat sakral. Setiap tahun, hanya Pu’un dan beberapa anggota masyarakat terpilih yang diperbolehkan mengunjungi lokasi ini untuk melakukan pemujaan.

Kepercayaan menjaga harmoni alam ini tercermin dalam keseharian Suku Baduy, terutama dalam cara mereka bertani dan membangun rumah. Mereka sangat menjaga kontur tanah dan tidak mengubahnya, sehingga cara berladang mereka sangat sederhana dan alami.

 Dalam pembangunan rumah, mereka menggunakan bahan-bahan alami tanpa mengubah bentuk asli tanah, menjaga harmoni dengan alam sekitar. Kepercayaan dan adat istiadat ini sangat kental dan masih dijalankan hingga hari ini, menjadikan Suku Baduy sebagai salah satu suku yang paling setia pada tradisi leluhur mereka. 

Mata Pencaharian dan Kehidupan Sehari-hari

Menanam Padi.
Potret menanam Padi. Sumber: IST

Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah bertani, khususnya padi huma atau padi ladang. Mereka menanam padi sekali setahun dengan benih lokal dan memanen dalam waktu sekitar lima bulan. Metode bertani mereka sangat sederhana dan alami, tanpa menggunakan cangkul atau bajak, hanya dengan sepotong bambu yang diruncingkan yang disebut tugal.

Selain bertani, mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan, seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Bertani dan mencari hasil hutan adalah pekerjaan utama mereka yang sangat bergantung pada kondisi alam sekitar.

Kaum perempuan Baduy juga memiliki peran penting dalam perekonomian keluarga. Mereka menenun kain yang digunakan untuk pakaian adat, ikat kepala, dan ikat pinggang. Kain-kain tenunan ini tidak hanya digunakan oleh masyarakat Baduy sendiri tetapi juga dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke desa mereka.

Interaksi dengan Masyarakat Luar

pasar Kroya
Potret Pasar Kroya. Sumber: Dok. yesradiocilacap.id

Meski hidup dengan aturan adat yang ketat, Suku Baduy tidak sepenuhnya terisolasi dari dunia luar. Mereka memiliki hubungan yang baik dengan Kesultanan Banten dan secara rutin melakukan upacara Seba, di mana mereka menghantar hasil bumi seperti padi dan buah-buahan kepada Gubernur Banten sebagai tanda kepatuhan dan penghormatan. Upacara ini berlangsung setahun sekali dan menjadi salah satu bentuk interaksi resmi mereka dengan pihak luar.

Di bidang perdagangan, masyarakat Baduy menjual hasil panen dan kerajinan tangan mereka melalui para tengkulak atau langsung di pasar-pasar sekitar wilayah mereka, seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger. Mereka menggunakan mata uang Rupiah biasa untuk transaksi, menunjukkan bahwa mereka cukup adaptif dalam hal ekonomi.

Orang Baduy juga sering berkelana ke kota-kota besar di sekitar wilayah mereka, seperti Jakarta dan Bogor, untuk menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Mereka biasanya berjalan kaki dalam rombongan kecil dan mengunjungi rumah-rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes. Aktivitas ini tidak hanya membantu perekonomian mereka tetapi juga memperkuat jaringan sosial dengan masyarakat luar.

Pantangan dan Aturan Adat

Gambar Handphone
Ilustrasi Handphone yang menjadi pantangan suku baduy. Sumber: IST

Sobat Suka Fakta, kehidupan Suku Baduy diatur oleh berbagai pantangan dan aturan adat yang sangat ketat. Berikut beberapa pantangan utama yang dijalankan oleh mereka:

1. Dilarang menggunakan transportasi modern

Masyarakat Baduy Dalam dilarang menggunakan kendaraan modern. Mereka lebih memilih berjalan kaki ke mana pun mereka pergi, baik dalam maupun luar wilayah mereka. Bahkan, mereka bisa pergi berjalan kaki ratusan kilometer untuk menjual hasil tani dan madu dari desa mereka.

2. Tidak menggunakan alas kaki 

Baik di dalam maupun luar desa, orang Baduy Dalam tidak diperbolehkan memakai alas kaki, termasuk sandal dan sepatu. Selain suka berjalan kaki, mereka berjalan dengan kaki telanjang. Hebat ya, Sobat?!

3. Pintu rumah harus menghadap utara atau selatan

Rumah Suku Baduy harus dibangun dengan aturan saling berhadap-hadapan, menghadap Utara dan Selatan. Aturan ini memastikan rumah-rumah mereka mendapat sinar matahari yang dapat masuk ke dalam ruangan dan cukup untuk pencahayaan sepanjang hari. 

4. Dilarang menggunakan barang elektronik

Barang-barang seperti televisi, kipas angin, dan smartphone tidak digunakan oleh masyarakat Baduy Dalam. Mereka sangat menjaga kesederhanaan dan ketergantungan pada teknologi. Namun, seiring berjalannya waktu, Suku Baduy Luar mulai beradptasi dengan perkembangan budaya dan menggunakan barang elektronik untuk mempermudah kegiatan harian mereka.

5. Hanya boleh memakai pakaian serba hitam atau putih

Pakaian mereka adalah bagian dari identitas budaya, di mana Baduy Dalam mengenakan pakaian putih sebagai simbol kesucian, dan Baduy Luar mengenakan pakaian hitam atau biru tua.

Aturan-aturan ini tidak hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga membantu mereka mempertahankan keseimbangan dengan alam sekitar.

Dengan menjaga keseimbangan antara kehidupan sehari-hari dan pelestarian alam, Suku Baduy berhasil mempertahankan tradisi mereka yang sudah berlangsung ratusan tahun. Kehidupan mereka yang sederhana dan harmonis dengan alam memberikan banyak pelajaran bagi kita tentang pentingnya menjaga dan menghormati lingkungan.

Kesimpulan

Suku Baduy, yang dikenal juga sebagai Urang Kanekes, adalah salah satu suku paling autentik di Indonesia, mendiami wilayah Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka terbagi menjadi dua kelompok utama: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam terkenal dengan kepatuhannya yang ketat terhadap adat dan tradisi leluhur, sementara Baduy Luar lebih terbuka terhadap pengaruh luar.

Bahasa yang digunakan oleh Suku Baduy adalah bahasa Sunda dialek Badui, dengan komunikasi adat yang disampaikan secara lisan. Pemerintahan mereka menggabungkan sistem nasional dan adat, dipimpin oleh Pu’un sebagai pemimpin adat tertinggi dan Jaro sebagai wakilnya. Mereka menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, yang berakar pada penghormatan terhadap arwah leluhur dan pemujaan kepada kekuatan alam.

Mata pencaharian utama Suku Baduy adalah bertani padi huma dan mencari hasil hutan seperti durian dan madu. Kaum perempuan Baduy juga menenun kain yang digunakan untuk pakaian adat dan dijual kepada wisatawan. Meskipun mereka memiliki pantangan ketat seperti tidak menggunakan transportasi modern dan barang elektronik, Suku Baduy masih berinteraksi dengan masyarakat luar, terutama melalui upacara Seba dan perdagangan hasil bumi. 

Secara keseluruhan, Suku Baduy adalah contoh nyata bagaimana kehidupan tradisional dapat berjalan selaras dengan alam dan tetap relevan di dunia modern. Mereka mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan, menghormati alam, dan menghargai tradisi. 

REFERENSI:

  • Wikipedia. (n.d.). Suku Badui. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Badui
  • Indonesia Kaya. (n.d.). Suku Baduy, Bersinergi dengan Alam Menjaga Aturan Adat. Diakses dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/suku-baduy-bersinergi-dengan-alam-menjaga-aturan-adat/
  • Gramedia. (n.d.). Mengenal Suku Baduy, Suku Asli Sunda yang Bersahabat dengan Alam. Diakses dari https://www.gramedia.com/literasi/suku-baduy/
Sukafakta

SukaFakta adalah website berita yang menyajikan fakta unik, fakta misteri, dan fakta dunia yang menarik dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *