Fakta Dunia

Mengenal Tradisi Bakar Tongkang, Sejarah dan Makna Mendalam bagi Masyarakat Tionghoa

114
×

Mengenal Tradisi Bakar Tongkang, Sejarah dan Makna Mendalam bagi Masyarakat Tionghoa

Sebarkan artikel ini
Mengenal Tradisi Bakar Tongkang, Sejarah dan Makna yang Mendalam Bagi Masyarakat Tionghoa. Sumber: hypeabis.id

Halo, Sobat Suka Fakta! Kalian pasti udah paham banget kan kalo Indonesia punya banyak banget tradisi yang tersebar di seluruh wilayahnya, dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari tradisi ma’nene, tradisi adu betis, tradisi tatung, tradisi dugderan, tradisi bau nyale, tradisi bakar tongkang, dan masih banyak lagi. Kalo mau disebutin semua, satu artikel ini rasanya gak bakal cukup si, Sob!

Nah, kali ini kita akan fokus menjelajahi salah satu ritual adat tionghoa yang sangat terkenal di Bagansiapiapi, yaitu tradisi bakar tongkang. Bagansiapiapi sendiri merupakan kota kecil di kabupaten Rokan Hilir, Riau. 

Tradisi bakar tongkang ini bukan sembarang tradisi, Sob! Bayangkan, setiap tahun ribuan orang dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, dan bahkan China Daratan datang untuk menyaksikan ritual ini secara langsung. Keren banget, kan?!

Sejarah Tradisi Bakar Tongkang

kapal yang ada di laut
Potret kapal yang ada di laut. Sumber: IST

Sobat Suka Fakta, tradisi bakar tongkang ini bermula dari perjalanan masyarakat Tionghoa yang merantau dari Provinsi Fujian di China ke Bagansiapiapi pada tahun 1820. Mereka datang dengan kapal kayu sederhana namun penuh harapan untuk kehidupan yang lebih baik. 

Di tengah perjalanan, mereka mengalami kebingungan arah di laut lepas. Dalam keputusasaan, mereka berdoa kepada Dewa Kie Ong Ya untuk mendapatkan petunjuk. Ajaibnya, di tengah malam, mereka melihat cahaya samar yang ternyata adalah kunang-kunang di atas bagan (tempat penampungan ikan). 

Cahaya ini kemudian menuntun mereka ke daratan yang sekarang dikenal sebagai Bagansiapiapi. Para perantau ini sangat berterima kasih atas petunjuk tersebut dan memutuskan untuk membakar tongkang sebagai tanda syukur dan persembahan kepada Dewa Kie Ong Ya. Nah, dari sinilah awal mula tradisi bakar tongkang yang kita kenal sekarang.

Kelompok perantau yang tiba di Bagansiapiapi itu terdiri dari 18 orang dengan marga Ang. Nama-nama mereka seperti Ang Nie Kie dan Ang Se Guan masih diingat hingga sekarang sebagai pionir yang membawa kehidupan baru bagi Tionghoa di tanah yang jauh dari kampung halaman. 

Sejarah tradisi bakar tongkang tidak hanya berhenti di situ. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini semakin berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi. 

Pembakaran tongkang pertama kali sebagai tanda terima kasih kepada Dewa Kie Ong Ya terus dilakukan secara turun-temurun. Setiap tahunnya, pada tanggal 16 bulan kelima dalam penanggalan lunar, masyarakat berkumpul untuk melaksanakan ritual ini.

Tradisi ini juga semakin dikenal luas, tidak hanya di kalangan masyarakat setempat, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Banyak orang dari luar negeri yang datang untuk menyaksikan langsung prosesi bakar tongkang. 

Tujuan Tradisi Bakar Tongkang

kapal
Potret kapal yang dibakar. Sumber: spektakel.id

1. Mempererat Ikatan 

Sobat Suka Fakta, salah satu tujuan utama dari tradisi bakar tongkang adalah untuk mempererat ikatan komunitas. Ritual ini menjadi momen kebersamaan di mana seluruh anggota komunitas berkumpul, berdoa, dan merayakan bersama. 

Melalui tradisi ini, masyarakat menunjukkan rasa hormat mereka kepada leluhur dan Dewa Kie Ong Ya, sekaligus memperkuat ikatan sosial di antara mereka. Ritual ini juga menjadi waktu yang tepat untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan harapan. 

Dengan berkumpul dan merayakan bersama, komunitas Tionghoa di Bagansiapiapi dapat memperkuat solidaritas mereka, yang pada akhirnya membantu mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

2. Meningkatkan Perekonomian dan Pariwisata

Melestarikan tradisi bakar tongkang juga bisa memberikan dampak positif yang besar pada ekonomi dan pariwisata lokal. Setiap tahun, ribuan pengunjung dari berbagai negara datang untuk menyaksikan ritual ini. Kehadiran mereka tentunya membawa keuntungan bagi sektor perhotelan, restoran, dan usaha lokal lainnya di Bagansiapiapi.

Festival ini juga memberikan peluang besar bagi para pedagang lokal, seperti penjual makanan, souvenir, dan berbagai barang lainnya, untuk meningkatkan pendapatan mereka. Secara keseluruhan, tradisi bakar tongkang menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

3. Menjaga Hubungan dengan Leluhur

Ritual ini bertujuan untuk menghubungkan masyarakat Tionghoa dengan leluhur dan memperkuat identitas budaya mereka. Melalui tradisi ini, mereka tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai penting kepada generasi mendatang.

Setiap tradisi ini dilaksanakan, masyarakat merasakan kebersamaan dan semangat komunitas yang kuat. Tradisi ini menjadi pengingat akan perjuangan dan pengorbanan leluhur, sekaligus sebagai doa dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Bagi mereka, tradisi bakar tongkang adalah warisan berharga yang harus dijaga dan dilestarikan turun temurun.

Makna Tradisi Bakar Tongkang

 kapal
Potret kapal yang dibakar. Sumber: dispora.rohilkab.go.id

1. Simbol Keberanian dan Pengorbanan

Membakar tongkang adalah simbol bahwa mereka tidak akan kembali ke tanah leluhur di China, melainkan akan menetap dan membangun kehidupan baru di Bagansiapiapi. Ini menunjukkan komitmen mereka untuk berkontribusi dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik di tempat baru.

Selain itu, tradisi ini juga mengingatkan akan pengorbanan besar yang dilakukan oleh para leluhur. Dengan membakar tongkang, mereka menunjukkan bahwa mereka siap mengorbankan segalanya untuk memulai hidup baru dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

2. Simbolisme Spiritual dengan Leluhur

Sobat Suka Fakta, setiap bagian dari tradisi bakar tongkang memiliki simbolisme yang sangat kaya. Misalnya, haluan tongkang yang dibakar ditentukan arahnya berdasarkan petunjuk dari Dewa Kie Ong Ya. 

Prosesi ini dipercaya akan membawa keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Prosesi pembakaran itu sendiri adalah simbol pengorbanan dan penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi.

Setiap langkah dalam prosesi bakar tongkang, mulai dari sembahyang di Kelenteng Ing Hok Kiong hingga arak-arakan dan pembakaran tongkang, penuh dengan makna dan simbolisme. Ini bukan sekadar ritual biasa, tetapi sebuah proses spiritual mendalam yang menghubungkan masyarakat dengan leluhur dan Dewa Kie Ong Ya.

3. Penghormatan pada Leluhur

Bagian lain yang tak kalah menarik dari tradisi bakar tongkang adalah ritual pemanggilan roh. Selama prosesi ini, berbagai kelenteng di Bagansiapiapi melakukan upacara pemanggilan roh leluhur. 

Orang-orang yang bersedia menjadi medium akan dirasuki oleh roh leluhur atau dewa, dan kemudian memberikan berkat dan nasihat kepada masyarakat. Meskipun terdengar mistis, namun ritual ini sangat dihormati dan dianggap sebagai bagian penting dari tradisi. 

Ritual ini adalah saat di mana masyarakat merasa lebih dekat dengan leluhur mereka dan mendapatkan petunjuk serta perlindungan. Proses ini juga menunjukkan betapa dalamnya rasa hormat dan penghormatan mereka terhadap leluhur dan dewa-dewa yang mereka percayai.

Proses dalam Tradisi Bakar Tongkang

Perahu yang dibakar
Potret perahu yang dibakar. Sumber: bpkpenabur.or.id

1. Sembahyang di Kelenteng Ing Hok Kiong

Sebelum memulai prosesi utama, masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi melakukan sembahyang di Kelenteng Ing Hok Kiong, kelenteng tertua di kawasan Pekong Besar. Di sini, mereka berdoa dan memohon berkah dari Dewa Kie Ong Ya. 

Kelenteng ini memiliki peran yang sangat penting karena di sinilah semua persiapan ritual dimulai. Patung Dewa Kie Ong Ya yang ada di kelenteng ini dipercaya sebagai pelindung dan penunjuk jalan bagi masyarakat Tionghoa. 

Sembahyang ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga momen untuk merasakan kehadiran spiritual yang kuat dan mendapatkan restu sebelum prosesi pembakaran tongkang dimulai.

2. Arak-arakan dan Pembakaran Tongkang

Setelah sembahyang, masyarakat mengadakan arak-arakan yang membawa replika tongkang ke tempat pembakaran. Arak-arakan ini biasanya sangat meriah dan diikuti oleh banyak orang. 

Prosesi ini menjadi bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan pengunjung karena penuh dengan kegembiraan dan semangat kebersamaan. Sesampainya di lokasi pembakaran, posisi haluan tongkang ditentukan sesuai dengan petunjuk dari Dewa Kie Ong Ya. 

Ini adalah bagian penting karena arah pembakaran dianggap membawa keberuntungan bagi komunitas. Setelah posisi ditentukan, tongkang diletakkan di lokasi pembakaran dan kertas sembahyang ditimbun di dekat lambung kapal. Pada saat yang sama, berbagai kelenteng di Bagansiapiapi juga melakukan upacara pemanggilan roh.

Dampak Tradisi Bakar Tongkang

Perahu yang dibakar
Potret perahu yang dibakar. Sumber: triptrus.com

1. Dampak Pariwisata

Setiap tahun, ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri datang untuk menyaksikan acara ini. Kehadiran mereka tidak hanya menambah keramaian, tetapi juga membawa dampak positif bagi sektor pariwisata di Bagansiapiapi.

Hotel-hotel, restoran, dan berbagai usaha lokal merasakan lonjakan pengunjung selama festival berlangsung. Peningkatan jumlah wisatawan ini tentu saja berkontribusi pada pendapatan daerah dan membantu mempromosikan Bagansiapiapi sebagai destinasi wisata budaya yang menarik.

2. Dampak Ekonomi Lokal

Selain pariwisata, tradisi bakar tongkang juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Festival ini memberikan peluang besar bagi berbagai usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan mereka. 

Penjual makanan, souvenir, dan barang-barang lainnya mendapatkan kesempatan untuk memasarkan produk mereka kepada ribuan pengunjung yang datang. Selain itu, festival ini juga membuka lapangan kerja sementara bagi masyarakat setempat. 

Banyak orang yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan festival, mulai dari dekorasi hingga pelayanan tamu. Secara keseluruhan, tradisi bakar tongkang memberikan dorongan ekonomi yang sangat berarti bagi Bagansiapiapi.

Tantangan Pelestarian Tradisi Bakar Tongkang

Laranga tradisi bakar tongkang.
Larangan tradisi bakar tongkang. Sumber: travelingyuk com

Sobat Suka Fakta, ternyata tradisi bakar tongkang pernah mengalami masa-masa sulit juga, lho. Pada masa Orde Baru, tradisi ini sempat dilarang oleh pemerintah selama lebih dari 10 tahun. Ini tentunya menjadi pukulan berat bagi komunitas Tionghoa di sana.

Namun, masa-masa sulit itu akhirnya berakhir saat Presiden Gus Dur menjabat. Ya! Beliau menghapus larangan terhadap berbagai tradisi budaya, termasuk bakar tongkang, sehingga masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi bisa kembali melaksanakan ritual ini dengan meriah.

Tantangan pelestarian Bagansiapiapi gak berhenti di situ aja, Sob! Tantangan kembali datang saat pandemi Covid-19 melanda. Pada tahun 2021, festival bakar tongkang kembali ditiadakan untuk menghindari kerumunan yang bisa menyebarkan virus. Beruntungnya, setelah pandemi Covid-19 berakhir, tradisi bakar tongkak bisa kembali dilaksanakan.

Upaya Pelestarian Tradisi Bakar Tongkang

Bakar Tongkang
Potret keramaian Festival bakar Tongkang. Sumber: mediacenter.dumaikota.go.id

Untuk memastikan tradisi bakar tongkang tetap hidup dan berkembang, pemerintah dan masyarakat setempat telah bekerja sama dalam berbagai upaya pelestarian. Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir memasukkan festival ini ke dalam kalender Visit Indonesia, yang membantu meningkatkan visibilitas dan menarik lebih banyak wisatawan.

Selain itu, berbagai program dan promosi juga dilakukan untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini. Masyarakat setempat, termasuk generasi muda, bisa terlibat aktif dalam setiap prosesi dan memahami makna di baliknya. Dengan begitu, tradisi bakar tongkang bisa terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Kesimpulan

Nah, Sobat Suka Fakta, kita sudah mengupas tuntas tentang tradisi bakar tongkang. Tradisi ini bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas dan budaya masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi.

Meskipun pernah mengalami masa-masa sulit, namun tradisi bakar tongkang berhasil bertahan dan terus dilestarikan. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat setempat juga sangat penting dalam menjaga kelangsungan tradisi ini. 

Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur, tradisi bakar tongkang akan terus menjadi warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang. Jadi, marilah kita sama-sama melestarikan tradisi bakar tongkang, Sob!

REFERENSI:

  • Pemerintah Provinsi Riau. (2023, Juni 9). Festival Bakar Tongkang Pada Tahun 2023 Kembali. Diakses dari https://www.riau.go.id/home/skpd/2023/06/09/6350-festival-bakar-tongkang-pada-tahun-2023-kembali.
  • Liputan6. (2023). Mengenal Festival Bakar Tongkang, Ritual Adat Tionghoa di Rokan Hilir Riau. Diakses dari https://www.liputan6.com/regional/read/5336811/mengenal-festival-bakar-tongkang-ritual-adat-tionghoa-di-rokan-hilir-riau#google_vignette.
  • Wikipedia. (n.d.). Ritual Bakar Tongkang. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Ritual_Bakar_Tongkang
  • Media Center Kabupaten Rokan Hilir. (n.d.). Event Bakar Tongkang di Rohil Ditiadakan, Bupati Rohil Lakukan Silaturahmi dan Beri Dukungan. Diakses dari https://mediacenter.rohilkab.go.id/view/event-bakar-tongkang-di-rohil-ditiadakan-bupati-rohil-lakukan-silaturahmi-dan-beri-dukungan.
Sukafakta

SukaFakta adalah website berita yang menyajikan fakta unik, fakta misteri, dan fakta dunia yang menarik dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *